Kamis, 24 Januari 2013

Ngurus Perpanjang Paspor

Beberapa hari yang lalu saya mencoba untuk mengurus perpanjang paspor sendirian, karena ada rencana bakal ke luar negeri (doakan saja saya mendapat tempat KP yang oke) akhir semester ini. Mumpung ada di Semarang juga dan paspor juga udah mati nih posisinya skrg.

Awalnya saya langsung browsing persyaratan untuk memperpanjang paspor, ternyata cukup simpel kok hanya butuh:
  1. Bukti domisili : KTP dan KK
  2. Bukti identitas diri : Ijazah / Akte Kelahiran / Surat Nikah
  3. Paspor lama
Nah setelah menyiapkan semua persyaratan, pada hari pertama nyoba untuk ngurus karena beberapa hal (maksudnya malas) akhirnya saya berangkat dari rumah jam 10 siang. Karena tempat ngurus paspor itu berada pada ujung barat, sedangkan rumah saya berada pada daerah timur Semarang, maka perjalanan ini menghabiskan waktu cukup lama yaitu 1 jam. Sehingga saya baru bisa datang jam 11.

Sesampainya di sana saat akan mendaftar, petugasnya bilang "mas, sekarang permohonan paspor cuman dilayani sampai nomor antrian 60 jadi ndaftar paspornya besok aja ya". Begitu mendengar ini, saya bingung juga. Masa' cuman 60 paspor sehari? Lah, kalo aku buru-buru gimana dong? Namun, semua pertanyaan itu kupendam dulu karena untungnya ada agenda lain yang menunggu sehingga saya dengan mudah meninggalkan loket dan menerima takdir untuk pulang dengan tangan hampa.

Belajar dari pengalaman hari kemarin, keesokan harinya saya berencana untuk datang jam 8 pagi saat kantor barusan dibuka sehingga konsekuensinya harus berangkat dari rumah jam 7 pagi. Obviously, rencana itu gagal karena saya harus mengantarkan semua adik-adik saya dulu pagi itu, belum ditambah untuk makan dan mandi. Sehingga baru bisa berangkat jam setengah 8.

Setibanya saya di sana, saya langsung datang ke loket pendaftaran, saat itu jam masih menunjukkan pukul 8 lewat 30. Dan yang mengagetkan adalah saya sudah dapet nomor antrian 52 dari kuota 60 pemohon yang ditetapkan. Padahal tadi berangkatnya tenang-tenang gitu, ternyata nomor antriannya udah diujung tanduk. Sementara nomor antrian saat itu menunjukkan angka 10, berdasarkan hitungan kasar saja pasti sekitar jam 10-11 siang baru dilayani nih.

Sembari menunggu, inilah saatnya investigasi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kantor imigrasi ini, kok cuman 60 permohonan sehari. Saya pun bertanya-tanya sama ibu-ibu atau bapak-bapak di kiri kanan tempat saya duduk dan saya mendapatkan informasi bahwa mesin pencetak paspor yg ada di Semarang itu rusak. Jadi ada 3 mesin yang seharusnya beroperasi sehari-harinya, tapi ketiganya rusak desember kemarin. Sedangkan baru ada 1 mesin baru yang dikirim dari Jakarta, sehingga tidak bisa mencetak banyak paspor tiap harinya.

Hmm, cukup make sense sih, kalau tiap harinya ada sangat banyak pemohon paspor baru maka paspornya bisa jadi lamaaaa banget dan tidak memenuhi SOP yang mewajibkan paspor sudah jadi 4 hari setelah membayar dan foto. Semoga cepetan ya mesin pencetak paspornya datang lagi, supaya pelayanannya bisa lebih cepet dan banyak. Saat investigasi ini, saya juga banyak mendengar banyak sekali keluhan-keluhan mengenai aturan ini, dan emang nyusahin sih. Tapi ya mau gimana lagi, orang-orang di sini mungkin sudah memberikan yang terbaik untuk melayani kita, kita ya harus sabar saja lha wong kondisinya gini.

Setelah selesai proses pendaftaran, dua hari kemudian saya mbayar, foto dan wawancara. Meski nunggunya cukup lama, namun cukup tak terasa karena membaca buku dan ngengerin musik. Setelah selesai proses hari itu, diberi tanda bukti dan boleh pulang. Trus, jreng-jreng-jreng beberapa hari kemudian paspor sudah bisa diambil.

Jadi sekarang ngurus paspor sudah enggak perlu ribet lagi, birokrasinya cukup jelas. Walau sebenarnya dapat dibuat lebih cepat, karena saya lihat petugas memindah-mindah dokumen ke sana kemari untuk tiap tahap membayar, foto trus wawancara. Jaman sekarang seharusya dokumennya diam, datanya yang pindah gitu, kan udah ada komputer (peluang proyek ni gan :P).

After all, makasih ya petugas-petugas di kantor imigrasi. Akhirnya paspor jadi juga (sayanganya fotonya gak boleh senyum gitu -,- )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar