Senin, 28 Januari 2013

Memperbaiki Modem


Barusan tinyok (temen SMA) datang ke kosan untuk cari tahu masalah pada modemnya yang tidak bisa dibuat internetan. Kemudian saya mencoba mencari tahu kemungkinan masalah yang terjadi.
USB terbukti tidak bermasalah karena flashdisk pun masih terbaca. Modemnya juga tidak bermasalah karena modemnya pun masih bisa digunakan dengan baik pada laptop lain. Jadi kemungkinannya adalah mobile partner-nya bermasalah, drivernya bermasalah.
Mencoba menangani masalah mobile partner cukup mudah karena biasanya tinggal d-iinstall ulang. Tetapi setelah di-install ulang pun, ketika dicoba lagi ternyata masih bisa. Bahkan ketika saya mencoba mencari software seperti mobile partner yang sering dipakai di luar negeri. Kemudian saya download dan install, namun hasilnya tetap nihil, masih tidak bisa. Jadi bukan ini ternyata masalahnya.
Masalah yang paling mungkin pada saat ini adalah drivernya bermasalah. Jadi saya uninstall driver hardwarenya. Kemudian cari driver hardwarenya di internet, setelah itu d-install lagi dengan driver yang baru pun masih tak membuahkan hasil.
Hmm, ini aneh. Kemungkinan apa lagi ya yang mungkin. Browsing-browsing di internet memberikan hasil yang nihil. Semuanya cuman cerita masalah atau saling komentar tanpa memberikan solusi. Akhirnya saat maghrib tiba dan kita sholat terlebih dahulu.
Nah, setelah sholat Maghrib. Saya baca lagi deh di internet, dan tiba-tiba saya membaca tentang error pada koneksi internet yang disebabkan Connectify. Sebenarnya tadi tinyok juga sudah cerita kalau modemnya ini mulai bermasalah saat download Connectify. Ya meski aneh, mungkin saja ada kaitannya, sehingga saya langsung uninstall Connectify. Dan alhamdulillah setelah di-uninstall modemnya langsung bisa berjalan dengan normal lagi.
Salah satu pesan moral hari ini adalah “Troubleshooting is harder than solving the problem itself” dan “ibadah itu pasti ada hikmahnya”

Cups itu sederhana


Jadi ceritanya ini sedang mengerjakan soal lomba Facebook Hacker Cup, setelah mendapatkan klarifikasi tentang soal nomor 3 yaitu “Find the Min”, saya langsung ngoding deh.
Dalam proses pembuatan program ini saya memakai cara incremental. Jadi sebelum implementasi yang bisa menangani semua kasus, jadi bikin untuk kasus yang kecil dulu. Sedangkan untuk kasus yang lebih besar, biasanya memanfaatkan kasus yang lebih kecil itu. (Kebetulan persoalan ini memang bisa diselesaikan dengan metode ini)
Nah, mentang-mentang kasus yang kecil bisa, tak sengaja malah kepencet “download input file” kemudian muncul dialog yang intinya “are you sure?” lalu dipencet YES. Saya tidak tahu apa yang membuat saya melakukan hal demikian
Padahal kalau sudah minta input, program kita diasumsikan sudah jadi dan dalam jeda 6 menit kemudian harus dikumpulkan program kita beserta outputnya. Nah, karena memang program belum jadi, akhirnya tidak bisa menyelesaikan soal ini. CUPS. Padahal saja apabila dikumpulkan saat program sudah jadi, ada kemungkinan dapat memperoleh nilai penuh.
Namun sayang, nasi telah menjadi bubur. So, Cups itu sederhana. Sesederhana ngeklik “download input file” dan ngeklik YES.

Kamis, 24 Januari 2013

Ngurus Perpanjang Paspor

Beberapa hari yang lalu saya mencoba untuk mengurus perpanjang paspor sendirian, karena ada rencana bakal ke luar negeri (doakan saja saya mendapat tempat KP yang oke) akhir semester ini. Mumpung ada di Semarang juga dan paspor juga udah mati nih posisinya skrg.

Awalnya saya langsung browsing persyaratan untuk memperpanjang paspor, ternyata cukup simpel kok hanya butuh:
  1. Bukti domisili : KTP dan KK
  2. Bukti identitas diri : Ijazah / Akte Kelahiran / Surat Nikah
  3. Paspor lama
Nah setelah menyiapkan semua persyaratan, pada hari pertama nyoba untuk ngurus karena beberapa hal (maksudnya malas) akhirnya saya berangkat dari rumah jam 10 siang. Karena tempat ngurus paspor itu berada pada ujung barat, sedangkan rumah saya berada pada daerah timur Semarang, maka perjalanan ini menghabiskan waktu cukup lama yaitu 1 jam. Sehingga saya baru bisa datang jam 11.

Sesampainya di sana saat akan mendaftar, petugasnya bilang "mas, sekarang permohonan paspor cuman dilayani sampai nomor antrian 60 jadi ndaftar paspornya besok aja ya". Begitu mendengar ini, saya bingung juga. Masa' cuman 60 paspor sehari? Lah, kalo aku buru-buru gimana dong? Namun, semua pertanyaan itu kupendam dulu karena untungnya ada agenda lain yang menunggu sehingga saya dengan mudah meninggalkan loket dan menerima takdir untuk pulang dengan tangan hampa.

Belajar dari pengalaman hari kemarin, keesokan harinya saya berencana untuk datang jam 8 pagi saat kantor barusan dibuka sehingga konsekuensinya harus berangkat dari rumah jam 7 pagi. Obviously, rencana itu gagal karena saya harus mengantarkan semua adik-adik saya dulu pagi itu, belum ditambah untuk makan dan mandi. Sehingga baru bisa berangkat jam setengah 8.

Setibanya saya di sana, saya langsung datang ke loket pendaftaran, saat itu jam masih menunjukkan pukul 8 lewat 30. Dan yang mengagetkan adalah saya sudah dapet nomor antrian 52 dari kuota 60 pemohon yang ditetapkan. Padahal tadi berangkatnya tenang-tenang gitu, ternyata nomor antriannya udah diujung tanduk. Sementara nomor antrian saat itu menunjukkan angka 10, berdasarkan hitungan kasar saja pasti sekitar jam 10-11 siang baru dilayani nih.

Sembari menunggu, inilah saatnya investigasi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kantor imigrasi ini, kok cuman 60 permohonan sehari. Saya pun bertanya-tanya sama ibu-ibu atau bapak-bapak di kiri kanan tempat saya duduk dan saya mendapatkan informasi bahwa mesin pencetak paspor yg ada di Semarang itu rusak. Jadi ada 3 mesin yang seharusnya beroperasi sehari-harinya, tapi ketiganya rusak desember kemarin. Sedangkan baru ada 1 mesin baru yang dikirim dari Jakarta, sehingga tidak bisa mencetak banyak paspor tiap harinya.

Hmm, cukup make sense sih, kalau tiap harinya ada sangat banyak pemohon paspor baru maka paspornya bisa jadi lamaaaa banget dan tidak memenuhi SOP yang mewajibkan paspor sudah jadi 4 hari setelah membayar dan foto. Semoga cepetan ya mesin pencetak paspornya datang lagi, supaya pelayanannya bisa lebih cepet dan banyak. Saat investigasi ini, saya juga banyak mendengar banyak sekali keluhan-keluhan mengenai aturan ini, dan emang nyusahin sih. Tapi ya mau gimana lagi, orang-orang di sini mungkin sudah memberikan yang terbaik untuk melayani kita, kita ya harus sabar saja lha wong kondisinya gini.

Setelah selesai proses pendaftaran, dua hari kemudian saya mbayar, foto dan wawancara. Meski nunggunya cukup lama, namun cukup tak terasa karena membaca buku dan ngengerin musik. Setelah selesai proses hari itu, diberi tanda bukti dan boleh pulang. Trus, jreng-jreng-jreng beberapa hari kemudian paspor sudah bisa diambil.

Jadi sekarang ngurus paspor sudah enggak perlu ribet lagi, birokrasinya cukup jelas. Walau sebenarnya dapat dibuat lebih cepat, karena saya lihat petugas memindah-mindah dokumen ke sana kemari untuk tiap tahap membayar, foto trus wawancara. Jaman sekarang seharusya dokumennya diam, datanya yang pindah gitu, kan udah ada komputer (peluang proyek ni gan :P).

After all, makasih ya petugas-petugas di kantor imigrasi. Akhirnya paspor jadi juga (sayanganya fotonya gak boleh senyum gitu -,- )

Sabtu, 05 Januari 2013

Mengenal dengan Akal dan dengan Hati

Bertahun-tahun kita beribadah, namun nampaknya kita masih menjadi pribadi yang sama saja seperti sebelumnya. Tak banyak perubahan, padahal seharusnya dengan beribadah kita menjadi pribadi yang mulia.

Pasti ada yang salah dengan ibadah kita selama ini, pasti ada yang salah. Lalu muncul pertanyaan, kepada siapa kita beribadah? Apakah kita sudah benar-benar mengenal kepada siapa kita beribadah?

Saya teringat pada sebuah hadist Rasulullah:
"Awal-awal agama adalah mengenal Allah"

Apakah kita sudah benar-benar mengenal Allah? Apakah kita sudah bisa menghayatiNya? Apakah kita sudah merasa cinta, takut pada Allah? Apakah kita sudah benar-benar menjadi seorang hamba?

Bagi saya, jawaban dari seluruh pertanyaan di atas cukup jelas, "Belum". Tapi bagaimanakah orang yang sudah mengenal Tuhannya? Ada sebuah perumpamaan yang sangat menarik, mungkin kita dapat ambil pelajaran dari hal ini.

Tahukah kita dengan harimau? Hampir semua orang tahu bagaimana buasnya hewan ini. Badannya yang besar, suaranya yang menggelegar, giginya yang tajam dan naluri predatornya yang begitu tinggi. Harimau dalam satu lompatan dapat melompat sekitar 10-15 meter baik itu maju maupun naik. Kemudian dalam menerkam mangsanya, harimau selalu mengincar tengkuk mangsanya sehingga mangsanya dapat mudah dilumpuhkan. Biasanya tidak lebih dari 5 menit, setelah diserang harimau mangsanya akan meninggal.

Saat saya menjelaskan 1 paragraf di atas, adakah dari kita sekarang ini terasa takut dengan harimau? Tentu saja tidak. Karena apa yang saya paparkan barusan hanyalah ilmu mengenai harimau, sama sekali tidak membuat kita takut dengan harimau. Karena takut itu berada pada hati dan ilmu itu berada pada akal.

Namun, misalkan suatu saat ketika kita pulang dari kampus mau ke kosan, somehow and someway kita tersesat di hutan (entah bagaimana caranya). Kemudian saat kita tersesat itu kita mendengar raungan harimau. Apa yang terasa pada saat itu? Sempatkah kita berfikir ilmu tentang harimau? Yang terjadi pada saat itu pasti hati kita dipenuhi oleh rasa ketakutan karena kekuatan harimau di hutan ini. Sewaktu-waktu kita dapat mati diterkam harimau dengan cepat sekali. Mungkin saat itu otak kita sudah tidak dapat lagi banyak berfikir.

Begitulah kira-kira gambaran perasaan kita ketika mendengar raungan harimau. Begitulah hati kita yang telah mengenal harimau. Bahkan tanpa befikir, otomatis kita akan merasa takut pada harimau tersebut. Nampaknya dengan bertemu harimau saja, sudah dapat membuat hati kita mengenal kekuatan harimau itu. Itulah beda antara mengenal dengan akal dan dengan hati.

Bukankah perasaan seperti itu yang seharusnya muncul ketika kita beribadah menghadap Tuhan. Bahkan seharusnya lebih dari itu, karena Dia lah yang menguasai hidup kita, dunia kita dan semuanya adalah milik Tuhan. Dan kuasa Tuhan ini terasa setiap saat, setiap detak jantung dan hembusan nafas ini.

Mungkin karena alasan tidak mengenal Tuhan inilah, kita masih berani berbuat tidak baik, kita masih tidak takut pada Tuhan kita. Padahal mengenal Allah adalah awal dari kita menjadi orang yang taat beragama seperti sabda Rasulullah tersebut.

Kalau kita menilik pada sejarah kenabian Rasulullah, 13 tahun pertama di Mekkah dihabiskan untuk mengenalkan para sahabat pada Allah. Tidak ada syariat yang turun pada masa itu, baru saat 10 tahun terakhir, semua syariat itu datang. Hal ini sangat menggambarkan bahwa mengenalkan manusia pada Tuhan adalah salah satu inti terpenting dalam kita beragama. Apabila para sahabat Rasulullah telah mengenal Allah, maka menjalankan syariat itu sangat mudah.

Jadi tanpa mengenal Allah, rupanya ibadah kita ini hanyalah untuk menggugurkan kewajiban belaka. Semoga Allah meng-anugerahkan pada kita untuk hati ini mengenalMu dengan berkah NabiMu dan berkah guruku. Amin.