Selasa, 04 Oktober 2011

Kematian


Ingatlah mati di dalam apa jua keadaan,
Agar kita tidak alpa, jiwa sentiasa subur dengan perasaan cinta dan takutkaan Tuhan.
Kematian itu satu keyakinan dan kepastian yang pasti terjadi.
Mati mesti diingati setiap ketika.
Kerana itu, mati adalah peringatan yang cukup baik. Saat kematian adalah satu masa yang amat dirindui oleh orang-orang yang mencintai Tuhannnya. Itulah jambatan pertemuan antara Khaliq dan hamba. Selepas kematian, setiap manusia akan sendirian, tanpa ayah, ibu, suami atau isteri, keluarga, sanak saudara atau sahabat handaai. Dia sendiri yang akan menanggung nasibnya sendiri.
Dua makhluk yang sangat mentaati Allah akan mempertanyakan amalannya, namun mereka ini TIADA LANGSUNG perasaan BELAS KASIHAN pada orang yang jauh lari dari Tuhan. Setiap amal baik dan buruk, pasti akan disoal..
Sabda Rasulullah SAW..
” Setiap manusia yang mati akan terputus semua amalan, kecuali tiga perkara. Ilmu yang bermanfaat, sedkah dan doa anak yang soleh”…
Aku penuh debar dan sungguh cemas
Menunggu hari kematian
Kerna dia datang tanpa ku ketahui
Aku takut di waktu ketibaan kematian
Aku tidak tahu, di dalam taatnya
Atau di dalam kedurhakaan
Di dalam aku mengingatiNya atau di dalam kelalaian
Di waktu taat, husnul khatimah
Jika di waktu durhaka, suul khatimah
Aduh..cemas aku setiap waktu bila mengingati mati
Kerna aku tidak tahu
Nasibku husnul khatimah atau suul khatimah
Hatiku resah selalu. jiwaku terganggu
tapi orang tidak tahu
Aduh, mati adalah penutup segala-galanya
Apa yang dilakukan dan apa yang dirasakan oleh hati,
Itulah yang dibawa ke akhirat
Di sana segala-galanya dinilai
Jika tersilap, di sana tidak boleh hendak dibetulkan lagi
Tuhan!
Tuhan!
Tuhan!
Hatiku sungguh cemas
Aku harap, matikanlah aku
di waktu aku mentaatiMu
atau di waktu mengingatiMu
Kalau berlaku sebaliknya kerana kelemahanku
..kerana aku ini hambaMu
tidak dapat elak dari kelemahan ini…
Dengan RahmatMu Tuhan
Dengan RahmatMu Tuhan
Ampunkanlah dosa-dosaku
di waktu ini
Bila dosaku Engkau ampunkan
Aku seperti tidak membuat dosa
Maka ringanlah bebanku sewaktu ke sana
Itulah harapanku padaMu Tuhan
di waktu detik kematianku..
Engkau sahajalah yang boleh menyelamatkan aku

By: Abuya At-Tamimi

Sabtu, 24 September 2011

Menggambar Pegunungan

Satu hari aku berjalan di tengah sesak dan padatnya car free day, aku pun melihat anak-anak SD sedang disuruh oleh gurunya menggambar sebuah pemandangan. Tertarik melihat anak2 yang sedang asik menggambar, aku pun mendekat. Aku cukup tertarik dengan gambar para siswa tersebut. Hampir semua gambar yang mereka buat memiliki kesamaan, yaitu gambar 2 buah gunung, matahari , jalan setapak, sawah, dsb. Ahh, terlalu biasa, terlalu standar. Satu paket yang rasanya terlalu melekat dalam setiap gambar yang dibuat oleh putra-putri bangsa Indonesia.

Perihal keseragaman sangat kental ditanamkan pada setiap siswa-siswi yang mengeyam pendidikan formal di Indonesia. Padahal keseragaman ini dapat menimbulkan ancaman yang cukup serius bagi bangsa ini. Karena keseragaman itu juga lah, hidup kita terasa kurang ramai, kurang akan suatu inovasi dan kreativitas. Coba saja, kita lihat sinetron ataupun film lepas karya orang Indonesia. Ahh, standar sekali. Hanya menghadirkan jenis konflik yang gitu-gitu saja. Dan tentunya gak perlu disebutkan lah ya tentang industri musik kita.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah mengenai kecenderungan kita untuk meniru. Sebuah budaya di Indonesia untuk 'ikut-ikutan' trend yang ada. Oleh karena itu pula lah negara kita juga sangat konsumtif dan pada akhirnya kurang berkembangnya pemikiran2 cerdas sumber daya kita. Dalam kondisi seperti ini, rasa aman akhirnya manjadi kebutuhan utama. Dan justru rasa aman tersebut didapat setelah seseorang tersebut menjadi penjiplak atau hanya sekedar tampil seragam saja..

Maka anak-anak yang menggambar pegunungan tersebut ketika disuruh menggambar bebek maka mereka terbayang menggambar bebek tampak samping saja. Tidak ada yang salah pada bayangan tersebut, namun mereka semua membayangkan gambar yang sama tentulah menjadi sebuah persoalan tersendiri. Mereka pun tentunya tidak bisa apa-apa tanpa andil kita para pembisik, pendesain dan tentunya penggemar keseragaman itu sendiri..