Bertahun-tahun kita beribadah, namun nampaknya kita masih menjadi pribadi yang sama saja seperti sebelumnya. Tak banyak perubahan, padahal seharusnya dengan beribadah kita menjadi pribadi yang mulia.
Pasti ada yang salah dengan ibadah kita selama ini, pasti ada yang salah. Lalu muncul pertanyaan, kepada siapa kita beribadah? Apakah kita sudah benar-benar mengenal kepada siapa kita beribadah?
Saya teringat pada sebuah hadist Rasulullah:
"Awal-awal agama adalah mengenal Allah"
Apakah kita sudah benar-benar mengenal Allah? Apakah kita sudah bisa menghayatiNya? Apakah kita sudah merasa cinta, takut pada Allah? Apakah kita sudah benar-benar menjadi seorang hamba?
Bagi saya, jawaban dari seluruh pertanyaan di atas cukup jelas, "Belum". Tapi bagaimanakah orang yang sudah mengenal Tuhannya? Ada sebuah perumpamaan yang sangat menarik, mungkin kita dapat ambil pelajaran dari hal ini.
Tahukah kita dengan harimau? Hampir semua orang tahu bagaimana buasnya hewan ini. Badannya yang besar, suaranya yang menggelegar, giginya yang tajam dan naluri predatornya yang begitu tinggi. Harimau dalam satu lompatan dapat melompat sekitar 10-15 meter baik itu maju maupun naik. Kemudian dalam menerkam mangsanya, harimau selalu mengincar tengkuk mangsanya sehingga mangsanya dapat mudah dilumpuhkan. Biasanya tidak lebih dari 5 menit, setelah diserang harimau mangsanya akan meninggal.
Saat saya menjelaskan 1 paragraf di atas, adakah dari kita sekarang ini terasa takut dengan harimau? Tentu saja tidak. Karena apa yang saya paparkan barusan hanyalah ilmu mengenai harimau, sama sekali tidak membuat kita takut dengan harimau. Karena takut itu berada pada hati dan ilmu itu berada pada akal.
Namun, misalkan suatu saat ketika kita pulang dari kampus mau ke kosan, somehow and someway kita tersesat di hutan (entah bagaimana caranya). Kemudian saat kita tersesat itu kita mendengar raungan harimau. Apa yang terasa pada saat itu? Sempatkah kita berfikir ilmu tentang harimau? Yang terjadi pada saat itu pasti hati kita dipenuhi oleh rasa ketakutan karena kekuatan harimau di hutan ini. Sewaktu-waktu kita dapat mati diterkam harimau dengan cepat sekali. Mungkin saat itu otak kita sudah tidak dapat lagi banyak berfikir.
Begitulah kira-kira gambaran perasaan kita ketika mendengar raungan harimau. Begitulah hati kita yang telah mengenal harimau. Bahkan tanpa befikir, otomatis kita akan merasa takut pada harimau tersebut. Nampaknya dengan bertemu harimau saja, sudah dapat membuat hati kita mengenal kekuatan harimau itu. Itulah beda antara mengenal dengan akal dan dengan hati.
Bukankah perasaan seperti itu yang seharusnya muncul ketika kita beribadah menghadap Tuhan. Bahkan seharusnya lebih dari itu, karena Dia lah yang menguasai hidup kita, dunia kita dan semuanya adalah milik Tuhan. Dan kuasa Tuhan ini terasa setiap saat, setiap detak jantung dan hembusan nafas ini.
Mungkin karena alasan tidak mengenal Tuhan inilah, kita masih berani berbuat tidak baik, kita masih tidak takut pada Tuhan kita. Padahal mengenal Allah adalah awal dari kita menjadi orang yang taat beragama seperti sabda Rasulullah tersebut.
Kalau kita menilik pada sejarah kenabian Rasulullah, 13 tahun pertama di Mekkah dihabiskan untuk mengenalkan para sahabat pada Allah. Tidak ada syariat yang turun pada masa itu, baru saat 10 tahun terakhir, semua syariat itu datang. Hal ini sangat menggambarkan bahwa mengenalkan manusia pada Tuhan adalah salah satu inti terpenting dalam kita beragama. Apabila para sahabat Rasulullah telah mengenal Allah, maka menjalankan syariat itu sangat mudah.
Jadi tanpa mengenal Allah, rupanya ibadah kita ini hanyalah untuk menggugurkan kewajiban belaka. Semoga Allah meng-anugerahkan pada kita untuk hati ini mengenalMu dengan berkah NabiMu dan berkah guruku. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar