Satu hari aku berjalan di tengah sesak dan padatnya car free day, aku pun melihat anak-anak SD sedang disuruh oleh gurunya menggambar sebuah pemandangan. Tertarik melihat anak2 yang sedang asik menggambar, aku pun mendekat. Aku cukup tertarik dengan gambar para siswa tersebut. Hampir semua gambar yang mereka buat memiliki kesamaan, yaitu gambar 2 buah gunung, matahari , jalan setapak, sawah, dsb. Ahh, terlalu biasa, terlalu standar. Satu paket yang rasanya terlalu melekat dalam setiap gambar yang dibuat oleh putra-putri bangsa Indonesia.
Perihal keseragaman sangat kental ditanamkan pada setiap siswa-siswi yang mengeyam pendidikan formal di Indonesia. Padahal keseragaman ini dapat menimbulkan ancaman yang cukup serius bagi bangsa ini. Karena keseragaman itu juga lah, hidup kita terasa kurang ramai, kurang akan suatu inovasi dan kreativitas. Coba saja, kita lihat sinetron ataupun film lepas karya orang Indonesia. Ahh, standar sekali. Hanya menghadirkan jenis konflik yang gitu-gitu saja. Dan tentunya gak perlu disebutkan lah ya tentang industri musik kita.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah mengenai kecenderungan kita untuk meniru. Sebuah budaya di Indonesia untuk 'ikut-ikutan' trend yang ada. Oleh karena itu pula lah negara kita juga sangat konsumtif dan pada akhirnya kurang berkembangnya pemikiran2 cerdas sumber daya kita. Dalam kondisi seperti ini, rasa aman akhirnya manjadi kebutuhan utama. Dan justru rasa aman tersebut didapat setelah seseorang tersebut menjadi penjiplak atau hanya sekedar tampil seragam saja..
Maka anak-anak yang menggambar pegunungan tersebut ketika disuruh menggambar bebek maka mereka terbayang menggambar bebek tampak samping saja. Tidak ada yang salah pada bayangan tersebut, namun mereka semua membayangkan gambar yang sama tentulah menjadi sebuah persoalan tersendiri. Mereka pun tentunya tidak bisa apa-apa tanpa andil kita para pembisik, pendesain dan tentunya penggemar keseragaman itu sendiri..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar